Sejak 1979, usaha ini menjadi bagian dari perjalanan panjang pedagang kecil di Yogyakarta. Kami pernah berjualan dengan segala keterbatasan, menghadapi penertiban, melewati pandemi, dan beradaptasi dengan relokasi. Namun dari setiap perubahan, kami belajar untuk tetap berdiri, tetap jujur, dan tetap menjaga harapan.

Mulai Berjualan
Sejak 1979
Lokasi Aktif
Teras Malioboro Beskalan
Fokus Produk
Pakaian
Kami memulai perjalanan sebagai pedagang kecil di pinggir jalan Malioboro. Dengan segala keterbatasan, kami berjualan untuk bertahan hidup dan mencari nafkah bagi keluarga.
Namun dari situlah semuanya bermula. Di balik lapak sederhana itu, ada tekad untuk bertahan, mencari nafkah, dan menjaga kehidupan keluarga. Malioboro bukan hanya tempat kami berjualan, tetapi juga tempat kami belajar tentang kerja keras, kesabaran, dan harapan.


Seiring waktu, hadir perubahan yang memberi ruang lebih baik bagi para pedagang. Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kawasan Malioboro mulai berkembang sebagai ruang ekonomi rakyat yang lebih hidup dan tertata.
Bagi kami, ini menjadi awal dari harapan baru. Malioboro tumbuh bukan hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai ikon wisata Yogyakarta yang mempertemukan budaya, pengunjung, dan pelaku usaha kecil dalam satu ruang yang penuh cerita.
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu masa tersulit dalam perjalanan kami. Selama lebih dari tiga bulan, aktivitas berjualan harus berhenti. Ketika perlahan mulai kembali membuka lapak, keadaan belum langsung membaik. Pengunjung masih terbatas, aturan pemerintah harus ditaati, dan tidak jarang dalam sehari tidak ada satu pun transaksi.
Namun kami memilih untuk tetap bertahan. Kami menjalani proses itu dengan sabar, mengikuti aturan yang ada, dan percaya bahwa setiap masa sulit pasti bisa dilewati. Alhamdulillah, perlahan kami mampu bangkit kembali.


Belum lama setelah mulai pulih dari dampak pandemi, kami menghadapi perubahan besar berikutnya: relokasi pertama ke Teras Malioboro 2. Perubahan ini bukan hal yang mudah. Kami harus beradaptasi dengan tempat baru, pola pengunjung baru, dan kondisi penjualan yang berbeda.
Pada awalnya, relokasi ini sempat mengguncang semangat kami. Omzet menurun drastis, kebiasaan lama harus ditinggalkan, dan kami harus belajar memahami cara berdagang di ruang yang baru. Namun kami tidak berhenti. Segala upaya kami lakukan untuk tetap menjaga usaha ini berjalan dengan baik, sehat, dan bertanggung jawab.
Setelah kurang lebih tiga tahun beradaptasi dan perlahan menstabilkan kondisi ekonomi, kami kembali menghadapi relokasi kedua. Kali ini, tantangannya terasa jauh lebih berat.
Secara bangunan, tempat baru memberikan fasilitas yang lebih baik: lebih tertata, terlindung dari panas dan hujan, serta memberi status yang lebih layak bagi pedagang. Dari yang dahulu dikenal sebagai PKL, kini kami diarahkan untuk tumbuh sebagai UMKM. Namun dari sisi perdagangan, kenyataannya tidak selalu seindah bangunannya. Posisi lapak, alur pengunjung, dan kebiasaan wisatawan sangat memengaruhi penjualan.
Di fase ini, kami mengalami salah satu titik terendah dalam perjalanan usaha kami. Ada hari ketika transaksi hanya cukup untuk kebutuhan makan, bahkan ada pula hari ketika tidak ada penjualan sama sekali. Meski begitu, kami tetap bertahan. Karena bagi kami, berdagang bukan hanya soal tempat, tetapi juga soal keteguhan hati untuk terus melanjutkan hidup.


Melihat kondisi yang semakin menantang, kami sadar bahwa bertahan saja tidak cukup. Posisi berjualan memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan usaha, terutama di kawasan wisata seperti Malioboro.
Ketika berada di lantai dua Teras Malioboro Ketandan, jumlah pengunjung yang datang tidak sebanding dengan besarnya arus wisatawan di Malioboro. Padahal, kawasan ini setiap tahun dikunjungi begitu banyak orang. Namun tidak semua pengunjung mengetahui, melihat, atau sempat naik ke lokasi kami.
Karena itu, kami mengambil langkah berani untuk melakukan ekspansi ke Teras Malioboro Beskalan. Lokasinya lebih mudah terlihat dan lebih dekat dengan alur pengunjung, meskipun kami harus menanggung biaya sewa yang tidak sedikit.
Bagi kami, ekspansi ini bukan sekadar pindah tempat. Ini adalah bentuk ikhtiar untuk menjaga usaha tetap hidup, memberi pelayanan yang lebih mudah dijangkau, dan membuka harapan baru setelah berbagai fase sulit yang telah kami lalui.
Kami belajar bertahan dari penertiban, pandemi, relokasi, dan perubahan yang tidak selalu mudah diterima.
Kami percaya bahwa usaha yang baik harus dibangun dengan kerja keras, kesabaran, dan cara yang benar.
Kami terus menjaga harapan untuk hidup lebih layak, berkembang, dan memberi manfaat bagi keluarga serta orang-orang di sekitar kami.

Perjalanan ini menunjukkan bahwa arah kebijakan, tata ruang kota, dan pengelolaan kawasan dapat sangat memengaruhi kehidupan pedagang kecil. Kami pernah merasakan masa yang memberi ruang untuk tumbuh, dan juga masa ketika usaha harus dijalani dengan penuh perjuangan dari hari ke hari.
Namun dari semua perubahan itu, kami belajar satu hal: selama masih ada daya tahan, kejujuran, dan harapan, selalu ada alasan untuk terus melanjutkan perjalanan.
Lihat Lokasi© 2026 Al-Birr Klambi